Antre itu nikmat

Standard

Antre, menurut Kamus Besar Bahasa Indoesia diartikan berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran. Sedangkan mengantre adalah berdiri dalam deretan memanjang sambil menunggu giliran untuk dilayani.

Lihatlah di sekeliling kita, antre sebenarnya sudah menjadi kegiatan keseharian. Mulai berangkat kerja, dimana terkadang kita harus mengantre di halte Transjakarta. Ataupun bagi mereka yang menggunakan kendaraan pribadi terkadang pagi-pagi sudah antre di gerbang tol, untuk membayar atau mendapatkan karcis/tiket tol. Bahkan keluar tol pun, harus antre lagi, karena macet di pintu keluar.

Saya tidak ingin bercerita, tentang keseharian yang sudah penat dengan antre (baca kemacetan) ini. Melainkan ingin berbagi pengalaman, agar antre yang tadinya menyebalkan, menjadi hal yang bisa “sedikit” menyenangkan.

Jika diamati di beberapa tempat antrean seperti kasir; tempat pembayaran baik di supermarket, kasir apotek, teller bank, atau tempat antrean lainnya (terutama di tempat-tempat keramaian), suasana antrean bisa terlihat nyaman atau bahkan sebaliknya, sangat tidak teratur.Di beberapa perusahaan ada sebagian yang telah menerapkan pola-pola antrean. Contohnya:

1) Beberapa perusahaan dengan antrean yang ramai telah menyediakan fasilitas ruang tunggu yang nyaman dan memadai.
2) Memodifikasi pola konfigurasi antrean.
3) Ada juga perusahaan perbankan yang menyediakan nomor antre sembari mempersilakan nasabah menunggu di kursi tunggu.

Di industri pelayanan (service industry), ada beberapa hal yang penting diperhatikan agar antrean masih dapat dirasakan nyaman dan menyenangkan bagi pelanggan. Di antaranya:

1. Memberikan fasilitas kursi tunggu, bagi pelanggan yang ingin menunggu proses transaksi. Karena bisa jadi di antara pelanggan yang antre tersebut terdapat wanita hamil atau mereka yang manula.

2. Memberikan sapaan hangat sebelum dan setelah antre kepada setiap pelanggan dengan tulus, hal ini akan menciptakan perasaan yang akrab dan bersahabat. Dan juga sampaikan ucapan terima kasih kepada pelanggan “Senang berjumpa dengan Anda, Pak/Bu. Di lain waktu kami senang membantu Anda kembali.” Sapaan yang ramah di akhir transaksi, akan mematri ingatan pelanggan bahwa mereka dihormati.

3. Memberikan kepastian kepada pelanggan mengenai jangka waktu penyelesaian sebuah transaksi, apakah 10 menit, 15 menit, atau 20 menit; lama waktu menunggu ini juga bisa dikombinasikan dengan incentive bagi pelanggan dimana apabila pelanggan lebih lama menunggu dengan tenggang waktu tertentu, seperti lebih dari 15 menit, maka akan diberikan diskon pembayaran 10%, diberikan permen, minuman mineral, atau gimmick spesial untuk menguranggi rasa kecewa karena lama menunggu.

4. Pastikan kondisi ruangan harus tetap terjaga nyaman (misalnya: berpendingin).

5. Apabila memungkinkan, perdengarkan musik instrumental ringan, atau musik-musik klasik, untuk mengurangi psikologis rasa lama menunggu.

6. Jadikan ruangan tunggu yang bersih, dengan penataan meja, kursi, atau rak-rak display yang rapi, untuk memperindah dan menciptakan rasa nyaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s